My Photo

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

Photo Albums

Powered by Friendster Blogs
Member since 05/2005

PENGUMUMAN

Blog indah pindah jadi ke :

www.indah-survyana.blogspot.com

kunjungi yaaaaaaaa :)

                            

L I L I N M E I

: Olin Monteiro

Pagi sembab, Mei sedu sedan. O, kau disana menghayati tiap derai dengan 36 lilin beku terhampar. O, kau disana menantang hari yang semakin gamang. Dan kau masih disana dengan pena biru melukis Mei muram.

Lalu ku coba susun 36 lilin diatas gurat wajah jalan. Ada garis tegas menjalar, menjadi anak jalan putus-putus, bercabang. Disana terganjal sederet nama dan peristiwa : sebagian membatu, sebagian dikikis angin waktu, sebagian kau rangkai diatas pot warna-warni, manis sekali.

36 lilin ku bakar sedapatnya – angin pancaroba membuat segalanya serba susah - hingga persahabatan hangat terasa.

Aku berkata :

”Malam pasti datang, tapi ini hari masih pagi. Lukisan muram belum kau selesaikan, Mei sungguhlah pucat, menahan perih luka-luka”

Kau berhenti sejenak, menaruh pena, lalu mengambil sejumput kapas

sambil berujar lugas :

”Mei harus sembuh total !”

Menteng, 28 Mei 2007

-indah-

Dua Siluet Megapolitan

Dua Siluet bercengkrama akan telanjangi malam. Malam-malam bimbang berselimut kamuflase gemerlap megapolitan. Sinar masih berupa lampu taman, genit, menggerahkan. Jangan kau bayangkan bulan-bintang ikut berserak, manusia megapolis terbiasa ketiadaannya sebab kamuflase menggelegar sangat menyibukkan.

Dua Siluet telanjang dibawah fatamorgana megapolitan. Hentak detak dentum eforia musik malam, memecah pasang sunyi yang datang bertubi-tubi menghinggapi sela hati warga kota mati. Malam panjang, pejalang malam, berpesta, bangun dinding mimpi yang tak sempat tercicipi setelah hari-hari sesak berpeluh isak oleh kebuntuan tanya keadilan.

(Kubiarkan lagumu menjadi soundtrack malam ini hingga beberapa malam berikutnya)

Dua siluet melaju kelam, tanya-mencari ujung dunia. Segala sepi, sayu -setengah jiwaku tertinggal di sudut kota tua, sementara lainnya kau ambang dibawa angin pancaroba- tersamar. Tubuh tanpa jiwa bertutur payah :
”Selingkuh itu indah, sayang ?”

Depok, 19-21 May 2007
-indah-

Saat Menantimu Di Bandara

:mbak mega vristanty (aktivis buruh migran hongkong)
senja muram turun mengerjap
beranda
bandara
sesak perkara
langkah
bisu
terawang hampa
ada yang kembali
: peluh diisak sunyi
Menteng, 16 May 2007
-indah-

Cuma Sepi

mimpi tak berpenghuni
abu-abu di bibir waktu
saat sela mengucap merdeka
hanya sepi di samping pujangga
menteng, 10 may 2007
(terinspirasi dari Puisi Dino F Umahuk)
-indah-

Membunuh Sepi

jatuhlah angan di dinding sembab
membuka tabir nelangsa jiwa
bila langit menyepuh pedih
hanya beku bertutur mati
maka matilah imaji hati
sepi : nafas mimpi yang kau hirup sampai mati
maka matilah mimpi sunyi
kemerdekaanmu : kematian imaji sepi
menteng, 14 mei 2007
-indah-

Kupu-kupu Revolusi

kupu-kupu elok
berputar telanjangi malam
dunia tersentak,
merdeka di ujung tandu !

Menteng, 15 mei 2007
(terinspirasi dari :In The Time of The Butterflies)
-indah-
http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/

Jakarta La Nuit

:fa

malam hingar,

bertabur roda pejalang

bulan serupa lampu jalanan

Artemis enggan berputar

bintang mogok bersinar

Apa yang terjadi ?

Siapa yang peduli !

malam tetaplah bimbang

riuh, lepas

suara-suara sumbang

pengamen

kecil

di simpang jalan ….

(ingin lekas pulang dan belajar terbang)

Menteng, 9 May 2007

-indah-

Metafora Jati Diri

:Lelaki di Persimpangan
kau angin,
berhembuslah menantang angan
sibak kelam yang membelenggu malam
hingga awan mengundang hujan
malam tak lagi mencekam
                     kau sepi,
                     bersandarlah pada bumi
                     tanam sunyi di pekarangan hati
                     hingga sajak tumbuh magis
                     petiklah, jangan menangis
kau sendiri,
berteriaklah lepas tanpa henti
seperti serigala di puncak tebing
melolong pada pelangi dibawah purnama
                     kau adalah kau
                     angin, sepi, sendiri
                     kau adalah kau,
                     metafora jati diri
menteng, 4 may 2007
-indah-

P U L A N G

/1/ Putus Asa

Terhempas di bibir waktu

Sekelebat kabut ungu menari di mata perisai legam

Yang baru saja hangus terbakar

Jalannya buta !

Lalu tanya berhenti bermakna

Dan galau ingin runtuh

Bunga rampai menolak bercerita

Tentang luka-luka di lembar nasibnya

Kabut ungu berarak perlahan

Menutup pandang bawah sadar

Dia mati rasa !

Siluet sajak tiba di kelopak jiwa

Ia lirih menyapa, hingga terdengar seperti desau anggin berbisik mesra

”Cukup, peluhmu menyayatku.”

                ”Mari kerumahku”

                                  ”Bangun galaumu di selatan rumahku.”

----------“Aku tak bisa !”

                              “Galauku teramat rapuh”

”Berhentilah mengeluh ...”

                   ” Sajak akan menghantarmu”

”Disana, berteriaklah lalu menangis sepuasnya”

                    ”Seperti pandora [1] yang membuka kotak hidup dunia ......”

Dia melangkah tertatih

Lalu hilang

Di balik kabut ungu

H e n i n g....................

/2/ Di Ambang Pintu

(Sajak mengalun, menuntun kakinya, pada sebuah rumah ungu.

Ia mengetuknya pelan

”siapa ?”

-”aku”

”galaumu runtuh ?”

-”hingga tak bisa hidup”

”masuklah ke rumah”

-”dimana ?”

”di luar pintu”

-” bukankah ini rumah ?”

“rumah hanya sekedar peristiwa  [2], tersekat dogma dan paradigma”

” ayo, masuklah”

-”kemana ?”

”labirin jiwa”

/3/ Labirin jiwa

(sedang di selesaikan)


[1] Pandora adalah manusia perempuan pertama yang diciptakan dewa-dewi dalam mitologi yunani

[2] diambil dari sajak Sitor Situmorang “

Ku

Ketuk

Pintu

Tao

SEPI (4)

: fa

Siapa yang mengirim rindu sepagi ini ?

Hingga matahari beranjak sunyi

Dari rahim hati seorang putri

Lahir sebait puisi sepi

Menteng, 27 April 2007

-indah-

-Tanpa Judul-

Malam merakit pekat. Hitam. Hanya itu yang kudapat. Namun tiba-tiba ada setitik sinar. Ia jatuh dari langit lalu menari di tepi ranjang. Sinar yang lelah ...

            ”Dari mana ?”

           ”Dari sana ”

            ”Perjalanan jauh, ya ?”

            ”1000 mil dihantar angin sunyi”

Setiap malam selalu berulang. Sinar jatuh, merangkak ke ranjang. Mengecup mata malam lalu menarik selimut panjang. Ketika mata terkatup damai. Ia tidak pergi, justru mengendap masuk ke alam mimpi.

            Esok pagi terkadang Ia datang kembali. Memberi secangkir canda pagi. Temaniku menelan sepi. Kemudian sepi mati tanpa usia harus terhenti.

            Begitulah Ia mewarnai hari. Gemerlap seluruh hati hingga ku tak tahu lagi, bagaimana membuat puisi.

Depok, 22 April 2007

-indah-

Protes Letak Kelamin !!!

Aku tinggal di pinggaran Jakarta dan peraturan di kantorku mengharuskan aku untuk datang awal. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan mengejar waktu adalah kereta api. Tentunya menjadi informasi umum bahwa Pelayanan KRL di Indonesia sangat buruk terutama pelayanan KRL antar kota seperti jurusan Bogor-Jakarta sementara peminatnya banyak sekali. Harus berdesak-desakan itu ritmenya yang terkadang ada bonus-bonus lain yang tidak menyenangkan terutama bagi perempuan. Ya....pelecehan seksual. Seperti yang dialami temanku. Ketika ia keluar dari kereta yang sangat penuh dan sesak, roknya basah. Anehnya lagi air yang membasahi bukan air biasa. Kental berwarna putih. Ya...itu sperma. Di tengah penuh dan sesak ada saja yang mencuri keesmpatan onani dalam kereta. Pelecehan lainnya banyak terjadi seperti sengaja mendempet perempuan di kereta walaupun kereta tidak begitu penuh. Lalu dengan sengaja menggesek-gesekkan penisnya ke bokong perempuan tersebut. Ada lagi yang kasusnya sama di tambah dengam memegang pinggang perempuan hingga sengaja sekali meletakkan kakinya diatara dua kaki perempuan. Dan kebanyakan perempuan yang kena pelecehan tersebut hanya diam saja. Mungkin karena takut atau malu. Pernah ada yang bicara keras ”hei jangan kurang ajar !” tapi seluruh isi kereta (terutama yang laki-laki) mencemooh dia dengan mengatakan ”kalau mau lega naik taxi mbak” atau ” emang lagi openuh, protes aja” sedang perempuan lainnya kebanyakan diam. Hah, mengapa kelamin laki-laki harus di depan dan libidonya itu tidak terkendali seperti binatang. Hingga bersenggolan sedikit saja sudah terangsang lalu melakukan pelecehan. Aku berandai-andai, seandainya laki-laki memiliki kelamin lepas pakai seperti kondom yang dapat di taroh di kantong. Jadi Ia hanya dapat menggunakannya ketika berhubungan dengan pasangannya saja bukan pada orang lain yang tidak berdosa. Tentunya lebih baik. Jadi Ia bisa mengontrol libidonya dan tidak merugikan orang lain. Atau tukar saja. Laki-laki memiliki kelamin vagina sedang permpuan memiliki penis. Sementara libido tetap dalam keadaan yang sama. Tentunya keadaan akan jauh lebih baik. Perempuan dengan libidonya yang terkontrol baik tentu tidak akan menggunakan kelaminnya dengan baik. Sementara laki-laki dengan mitos keperawanan yang melekat pada vagina tentunya juga akan bertindak lebih terkontrol. Laki-laki akan menjaga sepenuh hati selaput daranya agar tak robek. Biar saja laki-laki merasakan bagaimana hidup dengan mitos seperti itu. Ini adalah angan-angan yang bodoh di tengah ke kesalanku dan keputusasaan karena terlalu banyak melihat bahkan terkadang menjadi korban pelecehan di fasilitas publik. Perempuan belum Merdeka !. Aku muak hingga ku menduga apa kelamin Tuhan ? jika Ia non gender mengapa takdir laki-laki jauh lebih indah dan mudah ? Ah.... semoga saja keadannya esok lebih baik. I hope ....

Depok, 21 April 2007

-indah-

Apresiasi puisi "Rindu" dari seorang teman

Rindu
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu

Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu

Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana

Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jauh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu

Tak jua nama berhenti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?

Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya kau tak pernah ada

Ini puisinya Indah Survyana. Dipasang di blognya. Udah pernah aku baca se dulu, tapi baru nyadar sekarang kok ternyata puisi ini bagus juga. Jadi gatel pengen ngobrolinya. MULAI!!!!!!!!
Dua bait pertama kerasa banget betapa rapinya cewek ini menata perasaanya ke kata kata puisi, 2 bait pertama yang rapi dan tempo perasaanya makin tinggi.'Malam mengadu rindu/Kekal, menjelma kelambu/Tak satu kata beradu padu/Pada kotak merah jambu', disini Indah mulai merasa something chemistry (ceile...bahasana..sok banget mas!), dia tak bisa memadukan kata, tak bisa ngomong, karena ada sesuatu yang membatasi, sesuatu yang menjadi kelambu, dan itu terasa di kotak merah jambu (nah masalahna yang dimaksud kotak merah jambu ini apa?ini benda nyata ato cuma kiasan. aku ga tau)
Setelah dia bingung dengan kerinduanya di kotak merah jambu, perasaanya naik lebih tinggi; Aduhai cintaku diujung tandu/Dibawa angin musim haru/Pada sabit berjengger buludru. Tiga baris pertama di bait kedua ini pengen nyapa si 'cintaku' yang bimbang. Kebimbangan si cinta digambarkan ama kata 'diujung tandu', di ujung sebuah akhir. Kebimbangan buat memilih antara beberapa hal. Dan sang cinta memilih dibawa angin musim yang bikin kesedihan, kesedihan sebuah perpisahan. Sang cinta memilih dibawa pergi ke posisi bulan sabit, posisi yg ada di atas. Maksudna si cinta berada di posisi yang lebih atas dari posisi cinta sebelumnya dan posisi indah. Dimana posisi itu juga lebih baik keadaanya, yang digambarkan berjengger beludru. Beludru, kain yang sering disejajarkan dan dikonotasikan ama kemewahan. Akhirnya, indah yang ga ikut naik dan berada di bawah cuma bisa mengatakan rindu pada si cinta.
Nama terus bergema/entah mengapa/entah menyapa/entah dimana. Nama sang cinta terus terbayang, terus bergema. Entah mengapa, aku artikan si Indah ga ngerti apa dan kenapa bisa rindu. Entah menyapa, aku artikan Indah ga ngerti apa iya ada rindu, mungkin disini dia ngerasa ragu. Lanjut dengan entah dimana, disini keraguanya mulai keluar, apa benar si indah rindu, kalo iya dimana, kalo engga kenapa ada perasaan ini, mungkin itu yg ada di perasaan indah untuk bait ini.
Kususuri tapak waktu lalu/Hitung pasir yang berderas jauh/Diwaktu lalu/hingga ku merindu. Disini Indah mengenang, menyusuri masa lalu. Pasir pada jaman dulu dijadiin alat pengukur waktu, dan disini indah menyimbolkan pasir sebagai waktu dan kenangan. Pasir yang berderas jauh menyimbolkan waktu terasa deras dan kejadian kejadian indah bersama cintanya terasa makin menepi karna waktu yang berjalan terus, bahkan terasa deras. Seperti manusia pada umumnya kalo kita mengenang kejadian kejadian lampau yang terjadi adalah kangen, rindu, dibahasakan jadi 'hingga ku merindu'.
Begitu dalamnya kerinduan si indah sampai sampai, hingga pikiran tentang si cinta tak bisa hilang, tak jua nama berhenti bergema. Pikiran pikran menjadi hasrat, emosional yang mungkin berlebihan. Berlebihan sampai menajdi seribu tanya. Dan diantara seribu pertanyaan dan penasaranya, si Indah menuju satu pertanyaan yang mewakili seribu tanyanya; 'sedang apa kau disana?' Pertanyaan ini benar benar mewakili pikiran pikran dan hasrat si Indah, sedang apa sang cinta disana, apa sang cinta juga rindu si Indah, apa sang cinta sibuk samapi lupa sama si Indah. Gitulah pertanyaanya, 'sedang apa kau disana?'sangat mewakili hasrat rindu si Indah.
Kecut hati amatlah dungu/Tatkala suara tak dapat melagu/Kecut hati sisir nama itu/Pada kertas kaca, dunia maya/Sayangnya kau tak pernah ada. Kecut hati gambarin ketidakberdayaan Indah mengungkapkan perasaan rindunya entah karena alasan apa. Indah ngerasa ketidakberdayaanya ini dan menyesalinya, sampae dia ngatain dirinya dan ketidakberdayaanya adalah dungu. Diantara kelemahanya itu, waktu Indah ngerasa ga bisa mengungkapkan perasaanya, ga bisa melagukan perasaanya, si Indah mencari-cari nama si cinta pada kertas kaca, dunia maya. Kertas kaca udah dijelasin Indah sebagai simbol dunia maya, dunia internet, dunia chatting. Artina si Indah ama si cinta berhubungan lewat dunia internet. Tapi Indah ga nemuin nama/nick si cinta tiap Indah ada di dunia internet, alias si cinta ga pernah online. Bait terakhir 'Sayangnya kau tak pernah ada' jadi akhir yang cukup sedih buat semua pikiran dan hasratnya Indah.

Puisi ini sebenernya ga perludijelasin karna puisi ini udah lumyan cukup jelas maknanya. Yang bikin bagus dari puisi ini adalah si Indah bisa bikin bait bait yang rapi, terarah, tempo perasaanya naik dangan teratur dan pasti, ga emosianal lompat lompat. Selain itu kata kata yang dipilih juga bagus dan lebih bagusnya maksudanya bisa dimengerti. Di akhir puisi ini, di bait terkhir, Indah mengkahiri kerinduanya dengan satu kalimat yang sedih dan menutup semua bait bait di atasnya dengan sempurna; mengakhiri kerinduan dengan kenyataan ga bisa ketemu cinta, kerinduan Indah ga bisa dilampiaskan dengan ketemu cintanya.

http://danoedan.blogs.friendster.com/my_blog/

1000 mil

Aku menempuh 1000 mil,

demi mencari ujung dunia

(Disana pengembara melepas surat-surat kekasihnya, dan menjatuhkan tubuhnya, bersamanya …)

Depok,

(terinspirasi dari Creed “One Last Breath”)

8 April 2007

-indah-

ZAMAN

zaman edan

berteriak hingar

"que sera-sera"

relativitas

probabilitas ganda

mitos adalah kitab budaya

dan

peradaban dibawah sadar

adalah peradaban tanpa kemanusiaan ....

-------makhluk sunyi,

       bersembunyi dibawah ketiak malam,

       penonton setia teaterikal zaman

Menteng, 3 april 2007

-indah-

Mitologi Yunani Ep. Keadilan

Untuk pertamakalinya Temis membuka kain penutup mata. Terkejutlah Ia, Api Tartar berkobar hebat. Manusia tidak berdosa menggeliat di atasnya. Zeus telah menipunya untuk kesekian kalinya. Sungai Stinks pun surut. O...itukah sebabnya hujan Stinks berabad-abad hingga manusia selalu lupa ?

Seorang anak kecil berpakaian compang-camping mendekatinya. Berbisik halus....

”Dewi ceritakan kepadaku apa itu keadilan ? ”
”Keadilan adalah kebahagiaan sosial” sahut Dewi dengan senyuman
”Dimana keadilan, Dewi ?”.

Untuk beberapa saat dewi  diam, memandang Api Tartar, lalu berkata lirih, getir...

”Keadilan adalah kerinduan abadi manusia akan kebahagiaan ”

Menteng, 4 April 2007

-indah-

SEPI (3)

Petang terhirup sepi

Kubuka pintu waktu,

                       bulir-bulir salju mendesak,

                        mengendap

Kau berkata :

                     Tutup Pintu !

                    Waktu membuatmu membeku !

                     Berbaringlah bersamaku .....

                     Perapian menunggu

                    Sebait sajak terbakar sudah

Ada  hangat mengerjap, berulang

                                              Sederhana ....

                                              Sementara ....

( Sajak membatu,

              Aku meluruh menjadi abu )

Menteng, 2 April 2007

-indah-

Petang

Ada yang ingin disampaikan angin

Dalam desirnya yang dingin

Mengajak semua bergerak bersama

Makna dibalik irama

Bias, lepas, berhamburan

Menjadi partikel-partikel tak kasat mata

Tarian resah cabik hening

Seekor kupu-kupu hitam hinggap di beranda kayu

Tergoda tarian angin,

Ikut terbang  menuju titik dini purnama

Awan hitam, mendekat serampangan

Setubuhi senja hingga pucat

Senja mendesah sejenak, menangis tanpa air mata

Tinggallah pengap nyaris berteriak !

(Aku menyambut alam dengan asa mengambang.

Satu  pijar sinar hanya lampu taman di tepi kolam )

Cibogo, 26 Maret 2007

-indah-

Pagi di Cibogo

Pagi di Cibogo tiada beda

Matahari yang sama perlahan menaiki puncak gunung

Percumbuan dini, dingin

Bermula embun, gunung mendesah

Ada gairah di pagi itu

Bulir keringat keluar dari celah bebatuan

Waktu membawa keduanya hanyut

Matahari bergerak semakin liar

Mengecup penuh tubuh gunung

Hutan-hutan hijau yang merekah,

Tak lupa disisirnya pula.

Membelai semakin dalam

Tak disangka sinar pagi itu hinggap juga

Pada lubang hitam, liang gua

Gunung di pagi itu

Tak lagi  perawan

Cibogo, 27 Maret 2007

-indah-

Akhir Puisi Sempurna

Puisi Sempurna

Terhunus pedang temaram

Di ujung gang pelacuran

Terkapar

Roh melayang

Puisi mati penasaran

Cibogo, 26 Maret 2007

-indah-

Romeo & Juliet

adakah yang diam ?
sebait tipu hayal
menggiring Ia
menegak
ramuan puisi janggal
Juliet terkapar
tanpa tahu
Romeo ingkar
Menteng, 30 Maret 2007
-indah-

coretanku bukan puisi

Dear My Friends, kau katakan aku berubah. Dari aktivis jalanan yang selalu megang toa sekarang jatuh pada dekapan puisi melankolis, sampai ada teman yang berucap "Indah, sekarang kamu ada di dimensi mana ?". Indah tidak berubah, my friends. Dia tetap seperti yang dulu hanya saja suasana sekarang memang lebih melankolis. Bagaimana tidak, sehari hanya berhadapan dengan huruf dan huruf, terpaksa merangkai hingga menjadi lukisan air realita. Mencoba mengatur huruf-huruf agar dapat ditemukan kembali di kemudian hari. Jenuh ? sangat ! aku merindukan canda-tawa dari sudut pusgiwa. Aku merindukan hingar bingar serta asap kansas. Aku merindukan dongeng dosen-dosen di kelas. Aku merindukan semua pekik dan histeria dari kampus tercinta. Dan aku tetap disini berhadapan dengan huruf-huruf yang nyaris basi !

dear my friends, coretanku bukan puisi. Ini sebuah diary dari seorang indah bodoh. Selalu bercerita tentang kesehariannya dan seseuatu yang unik dimatanya (Kau masuk dalam puisiku, kau unik dimataku :).Coretanku bukan puisi meski beberapa kebetulan berbentuk seperti puisi. Puisi bahasa tertinggi dan coretanku bukan puisi ! Puisi sangat universal  sementara coretanku sangat personal. Apa lagi ? banyak ! dan seorang indah yang tidak pernah mengecap teori estetika tidak akan mungkin melakukannya. Memang, namaku indah tapi ini bukan indah! Indah yang ini masih mengeja kata i...n...d...a...h...hingga mengetahui apa arti dirinya.

Dear my friends, aku masih tetap mencari makna semesta dan hakikat aku sebagai manusia yang hidup diatasnya. Entah sampai kapan pencarian ini tapi sungguh ini adalah petualangan yang mengasikkan lebih dari sekedar pendakian alam. Dan aku percaya walau tertatih-tatih, terseok-seok, meringis hingga menangis. Di ujung senja pasti terbahak-bahak. Hahahaha :)

Menteng, 22 maret 2007

-indah-

SEPI

SEPI (1)

Sia-sia semua lagu yang mengalun

Karna tak ditemukan keramaian

Semua berawal dari ada menjadi ketiadaan

Keabadian adalah semu, kala

Tirai pertunjukkan menutup

Perempuan muda memandang congkak

Ruang bisu dalam tabung

Akhirnya ia terbangun,

lalu menangis seketika

Hening ......

Depok’o6

-indah-

SEPI (2)

Sepi, bagaimana melukiskan kau ?

Kau udara,

hadir di setiap nafas waktu

hingga usia terhenti,

kau mati

Aku abadi tanpa sepi...

Salemba, 21 Maret 2007

-indah-

(t)RI(s)AK(t)(i) HAMB(e)AR(a)(t)

Themis pergi ke pasar
Menawar obat bagi luka berhimpitan
Zeus mengetuk palu kehormatan
Riak hambar mengalir di persidangan …..

Menteng, 14 Maret 2007
-indah-

Senja Di Jakarta

Apa yang dijanjikan senja untuk Jakarta ?
Membiarkan warganya tua dijalan,
berangkulan asap, debu dan tangisan,
atau bergelimang lampu penasaran ?
(sayup-sayup azan berbisik mesra,
aku, pendo(s)a masih berkeliaran)
Menteng, 13 maret 2007
-indah-

Daun Kering Di Titik Api *

Tarian angin, galau, gemulai
Menghempas dedaunan kering, terabai
Matahari
Penuh
Mendekap bumi
Panas …
Lambat, pijar titik-titik api
Seperti neraka, kita disana !
Entah, adakah tawa tersisa ?

Satu generasi berharap hujan hapus luka

Menteng, 13 Maret 2007
-indah-


Catatan Kaki :
* Judul diatas dimbil dari judul pertunjukkan teater tanggal 13-14 Maret di Gedung Kesian Jakarta (GKJ) Pertunjukkan ini merupakan hasil kolaborasi UKM Bidang Seni Universitas Indonesia yang terdiri dari Liga Tari, Teater UI, Marching Band, Orkestra Simfoni dan Paduan Suara. Sampai detik ini saya masih terpesona pada Tarian Angin dan Dramatisasi Puisi Sutardji (Tanah Air Mata) yang disajikan semalam dengan luar biasa. Bravo UKM Seni UI !

RINDU

Malam mengadu rindu

Kekal, menjelma kelambu

Tak satu kata beradu padu

Pada kotak merah jambu

Aduhai cintaku diujung tandu

Dibawa angin musim haru

Pada sabit berjengger buludru

Dibawah, aku mengadu rindu

Nama terus bergema

Entah mengapa

Entah menyapa

Entah dimana

Kususuri tapak waktu lalu

Hitung pasir yang berderas jatuh

Diwaktu lalu

hingga ku merindu

Tak jua nama henti bergema

Hasrat ikuti gema nama

Dalam seribu tanya

Sedang apa kau disana ?

Kecut hati amatlah dungu

Tatkala suara tak dapat melagu

Kecut hati sisir nama itu

Pada kertas kaca, dunia maya

Sayangnya, kau tak pernah ada

Tinggalah sendiri, aku

Terus mengadu rindu

Hingga berharap pada bintang jatuh

Kian kutunggu tak pernah jatuh

Rindu dimalam itu, Rindu lirih melagu

Depok, 2007

-indah-

Aceh, 2,3184 giga dukkha

GOVERNMENT PC

File Download-Security Warning

Name : Dukkha * Aceh, 2,3184 giga dukkha

Type : SOS ASAP

From : 01-07

Do you want to open or save this file ?

> Cancel

Task Manager Status:

Sims City 1 (playing)…..running…..

ACEH PC

Task Manager Status:

MP3 07 Sum 41 Still Waiting (playing)…running… ………………………………………..

Menteng, 3 Maret 2007

-indah-

Catatan Kaki :

* Dukkha adalah satuan penderitaan manusia. Istilah ini dibawa oleh Professor Teuku Jacob pada acara Pidato Kebudayaan dan Seminar “Manusia,Kekerasan dan Nir Kekerasan” Tanggal 25 Februari 2000 di Gedung Pertemuan UGM Yogyakarta. Ada 9 tahapan Dukkha yaitu : tahap terasa, mengganggu, cukup mengganggu, perlu pertolongan, mengganggu kehidupan sehari-hari, amat sangat mengganggu, payah, tak tertahankan sehingga ingin mati saja. Dari satuan ini dapat dihitung berapa besar satuan Dukkha yang dialami suatu bangsa (Gross National Dukkha). Bila bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk 210 juta mengalami Dukkha dengan tahapan tertinggi maka satuan dukkha yang dialami bangsa Indonesia menurutnya dalam satu tahun mencapai 89.850 mega dukkha. Dengan perhitungan : 210 jiwa x 9 (tahapan) x 360 hari = 89.850 mega dukkha Sementara bila di Aceh terdapat 100 ribu warga yang terkena dampak DOM dengan tahapan 5 selama sepuluh tahun, maka satuan dukkha yang dialami warga aceh mencapai 1,85 giga dukkha. Ditambah lagi penderitaan sekitar 80 ribu rakyat aceh selama dua tahun pasca tsunami dengan tahapan sampai 9 tahapan. Berarti total Dukkha masyarakat Aceh hingga tahun 2007 mencapai : 2,3184 giga dukkha

Chega !

Ada "chega!" *
Mengaduh,
air mata
minta di seka !
Yang lain berteriak,
"aku juga minta di seka !"
belalang tua yang dituju,
nikmati masa tua,
sibuk momong anak cucu
"Ah...damainya dunia masa tua"
Ia berkata...
Menteng, 1 maret 2007
-indah-

L E V I N A

Levina,

Namamu cantik, takdirmu pahit

Mandi air mata kau rupanya

Setelah kemarin kusam, hitam, terbakar

Kini kau menyelam, tenggelam

Tangis, luka, terus meraja

Melepas engkau, para kesatria

Disana, mendekap Levina

Menteng, 26 Februari 2007

-indah-

GOMBALISASI KADAL BELANG

Persekutuan Kadal Belang

Deklarasi Gombalisasi

Nyanyian berjalan lintas alam

Terobos gang-gang sempit pelacuran

Hingga kerumah-rumah berhimpitan

Banjir ludah di ibukota !

Ditambah receh, rakyat pun senang

Yang lalu biarlah berlalu

Tapi badai tak pernah berlalu

Akhir cerita selalu sama

Kadal menang, jejingkrakkan

Gombal laku dipasaran

Kursi terbeli murah meriah

Depok, 17 Februari 2007

-indah-

MANUSIA-MANUSIA TERNAK

Manusia-manusia ternak

Hidup di zaman Instan

Telan bulat logika tiran

Yang, edan dilarang bertahan

Sebagian dipasung kemudian

Lalu binasa perlahan

atau dibuang ke pengasingan ?

Manusia-manusia ternak

Hidup untuk makan

Lapar, rakus, bengis, diajarkan

Ilmu bertahan di belantara hutan

Hukum rimba yang jadi acuan

Manusia-manusia ternak

Manusia massa yang kesepian

Malas berfikir, malas bercermin

“que sera-sera” mereka bersorak

Suka rela sambut propaganda

Manusia-manusia ternak

Makanan empuk tiran hitam

Habis menurut, tiada melawan

Yang melawan, di bina (-sakan)

“Mengganggu keamanan” kata si tiran hitam

Seperti flu burung di musim penghujan

Depok, 21 februari 2007

-indah-

-BELUM ADA JUDUL-

Rasanya baru kemarin

Udin pergi, tinggal tanya

Jejak Membekas

Bercak darah

Bersemayam

Tunggu keadilan !

Rasanya Baru kemarin

Udin pergi, tinggal tanya

Sebentar kemudian Mohamad Sayuti, Naimulah, Mukmin Fanani, Sander Thoenes, Agus Mulyawan, Herliyanto, Ersa Siregar dan siapa lagi ?

Meninggalkan jejak di pagi buta

Dari pena tinta, berdarah

hilang,

ditelan busuknya konspirasi !

Rantai-rantai kekerasan semakin panjang dan bercabang

Melilit yang vokal, mencekik yang melawan

Kita di lingkaran setan, kawan

Dan mereka, di bawah nisan, terdiam, tunggu keadilan !

Menteng, 21 februari 2007

-indah-

APA KABAR ?

Iya, Mereka Mahasiswa

Tertawa hingga keluar airmata

Saksikan Thukul Arwana

Di acara Empat mata

Iya, Mereka Mahasiswa

Pesta pora ber-valentin ria

Kuping di sumbat lagu bercinta T

uli, dari panggilan sejarah

Sejarah bangsa, Sejarah gelap

Tak ada sinar walau seberkas

Sejarah bangsa, Sejarah berdarah

Darah tumpah, bukan tak berarti !

Namun mereka masih tertawa

Hahahahahahaha

hhhhhhhhhhhhhhhhh

Hiks hiks hiks hiks

Apa kabar Wiji Thukul ? Ya

ng hilang 10 tahun silam

Pahlawan pembebasan kemanusiaan

Kini mulai dilupakan

Apa kabar Wiji Thukul ?

Sendiri Ia dalam kegelapan

Masih menanti keadilan

Apa kabar mahasiswa ?

Masih, tertawa

Hingga keluar air mata!

Depok, 20 februari 2007

-indah-

-BELUM ADA JUDUL-

orang bilang ini reformasi

nyata-nyatanya cuma repotnasi

apakah salah petani-petani ?

salahkan saja tikus rakus yang tumpuk beras di gudang busuk

atau penguasa yang ngidam berat makan beras impor ?

orang bilang ini demokrasi

nyata-nyatanya cuma democrazy

“demokrasi bukan untuk orang bodoh dan malas berfikir!

Demokrasi bukan untuk diamati di bangku-bangku perguruan toinggi ,

demokrasi hak asasi! “

Kata seorang politisi, sebelum Ia dapat posisi

Apa yang kau banggakan kini ?

Percayalah, semua sudah basi

di telan gemuruh globalisasi

anak emas kapitalis sejati!

Nyatanya kita cuma ngiler

Mau ini mau itu

Lelah menghayal lantas ketiduran

iler mengembang di pulau kasur

Selagi tidur, pulau hilang satu persatu

Warisan untuk anak cucu Cuma sebatas pakaian dalam bolong-bolong

Aduhai bangsaku, negeriku, tanah airku

Tanah tumpah darah selalu

Tanah air mata

Menteng, 22 februari 2007

-indah-

http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/

Law..damn!

The law locks up the man or woman

Who steals the goose from off the common

But leaves the greater villain loose

Who steals the common from off the goose.

The law demands that we atone

When we take things we do not own

But leaves the lords and ladies fine

Who take things that are yours and mine.

The poor and wretched don’t escape

If they conspire the law to break;

This must be so but they endure

Those who conspire to make the law.

The law locks up the man or woman

Who steals the goose from off the common

And geese will still a common lack

Till they go and steal it back.

-anonymus-

Copet...oh...copet

Kemarin malam (14/02/07) saya memergoki copet HandPhone lagi. Peristiwa ini terjadi pukul 21.30 WIB ketika saya naik angkot nomor 129 jurusan Pasar Minggu-Mekarsari.. Dari Pasar Minggu angkot terlihat cukup ramai, 2 orang duduk di sebelah kanan, 3 orang duduk di sebelah kiri. Saya duduk di pojok sebelah kiri. Kemudian seorang laki-laki, bertubuh tegap, berkumis&berjanggut, berpakaian kerja (kemeja kotak-kotak, celana bahan warna hitam, sepatu pantofel) dan membawa tas laptop (bagus, merek polo, warna hitam) duduk di antara saya dan perempuan berpakaian putih. Awalnya saya pikir laki-laki ini pasti pulang dari kerja tapi lama saya perhatikan tangan laki-laki itu tidak diluar tetapi berada di balik tas laptopnya. Tas laptopnya dalam posisi tegak sehingga menutupi paha hingga dada laki-laki itu. Tangannya mulai beraksi di balik tas laptopnya. Ia mencoba merogoh tas perempuan berbaju putih itu. Kira-kira selama 20 menit Ia berusaha membuka sleting tas perempuan berbaju putih itu. Untungnya Pak sopir yang duduk di depan suka ngerem mendadak sehingga laki-laki selalu gagal setiap akan berhasil membuka tas perempuan itu. Di menit ke-30 nampaknya laki-laki itu belum juga berhasil membuka tas perempuan targetnya.Dia mulai mengelap keringat dan membenarkan tas laptopnya lalu beraksi kembali, tapi lagi-lagi pak supir yang baik hati ngerem mendadak dan aksi gagal lagi. Di menit ke 36 laki-laki itu melihat kearah saya. Saya mendekap erat tas ransel saya dan tak lupa mengeluarkan payung lipat saya yang berwarna pink ngejreng. Waktu itu angkot penuh. Beberapa penumpang melihat ke saya. Mungkin saya terlihat aneh sekali, tiada angin tiada hujan tapi kok ngeluarin payung. Di menit ke 40. Beberapa penumpang turun. Perempuan berbaju putih itu duduk menjauh, saya sendiri pindah tempat duduk ke sebelah kanan dekat pintu. Laki-laki itu terlihat bercucuran keringat dan kembali mengusap keringatnya. Saat itu kedua tangannya sudah berada di depan Menit ke 45, perempuan berbaju putih dan perempuan di samping saya turun sehingga total penumpang di angkot itu tinggal saya dan laki-laki itu. Saya duduk di bangku empat dekat pintu, sedang dia duduk di pojok bangku enam. Menit ke 48 angkot sampai di Palsigunung. Dia turun tanpa membayar sepeser pun. Dari kejauhan saya melihat laki-laki itu berlagak sibuk dengan melihat jam dan menyetop angkot nomor 41 jurusan Kp.Rambutan-BJ.Gede dan kelihatnnya angkot itu agak penuh. Ah…semoga laki-laki itu gagal lagi : )

Hush...huh....

Hush….. Kereta memecah air Seperti kapal Nabi Nuh Tapi masinis bukan Nabi Ia manusia, biasa Dalam gamang, Ia berkeluh Huh….. “Rumahku tinggallah atap Anakku kena DB Gajiku cuma cukup seminggu” Sungguh, dia bukan nabi ! Tapi Ia mulia Huh….. Lihatlah ke layer kaca Badut-badut di singgasana Ramai-ramai jual derita semesta Yang lain ikut bicara Ramai-ramai bangun citra Huh…. Siapa salah ? Katanya Alam, salah Katanya orang miskin, salah Buang sampah sembarangan Nyatanya semua pikun Pikun sejarah, pikun ilmu Sejarah cuma di tumpuk, lantas lapuk Inikah warisan untuk generasi nanti ? Huh…. Apa itu Jakarta ? Manggarai, 7 februari 2007 -indah-

Wisuda

Hari ini gw di wisuda, tapi males banget boo cuz wisudanya jam 3 sore, hujan pula lagi! Huh! Tapi untungnya sorean coba klo pagi-pagi wadduh, ga kebayang tuh repotnya cuz pagi-pagi hujannya deres abiz gitu deh klo sore kan Cuma gerimis ya...lumayan lah. Pagi-pagi setengah sadar gw dah terima ucapan selamat dari 2 orang sahabat gw (yg kyaknya ga dteng, hiks), tapi karena setengah sadar gw cuma inget si yudi doank yang satu lagi siapa ya katanya sih adi tapi kok suaranya bukan adi. yeah..wha ever lah.

Muka gw di poles topeng seharga 35 rb jadi terlihat putih dan mulus meski gw ga betah juga palagi harus pake lipstik, oh...it’s so sucks guys! Ya... yang penting mama seneng lah...

Sampe di baleirung jam 14.30, acara nyaris di mulai. Macet banget booo... and nyari parkiran susah banget akhirnya bokap parkir di rektorat tempat dosen-dosen parkir. Jadi serasa jadi dosen deh. Waktu mo masuk ketemu eko, uncle sam dan mbak ana. Kyaknya abiz nemenin eko wisuda dah. Hebat euy si eko dah lulus S2. jadi klo si eko garisnya dua cus S2 sementara gw garisnya satu cuz baru S1.

Oh, wisuda gini toh rasanya. Ga berasa booo, little bit garing lah. Gw tidur pas rektor pidato. Kepala gw berat banget mungkin ini pengrauh Ctm yang gw minum tadi pagi. Harap gw mudah-mudahan upacara ngebetein ini cepat berlalu. Hihihi J

Sselesai wisuda kira-kira pukul 17.00. wah pas selesai crowded banget. Ktemu yola, leli and kita sempet foto2 bertiga. Pas lagi crowded nyari jalan keluar ketemu bebek tapi enggak sepet foto. Gw cari jalan keluar scepatnya.

Begitu ktemu keluarga foto-foto lagi deh. Tapi kok tmen-tmen ga keliatan ya ? mungkin krn ujan kli pada males dteng (tapi malem gw tlp diro ternyata anak-anak nunggu di dket danau, walah!geblek!)

Oh, ternyata gini toh rasanya wisuda. Biasa aja! Ga lebih dari seremonial or ritual yang Cuma fotofoto dan foto-foto lagi. Gw banyak ngabisin berfoto di belakang gedung rektorat. Ga tau knapa ya mungkin karena itu lambang keanggkuhan sebuah lembaga pendidikan yang sampai sekarang gw belom bisa menaklukkannya. Yeah...berfoto disana juga akan mengingatkan gw bahwa suatu saat gw harus bisa menaklukkannya. ! yeah...i wish....

Depok, 3 februari 2007

-indah-

Manusia-manusia ternak

Manusia-manusia ternak

Hidup di zaman instan

Manusia-manusia ternak

Waras jadi pilihan

Ketika Edan dilarang bertahan

Depok 31 Januari 2007

- indah-

Depok di pagi hari

Susuri jalan lurus

Sunyi, tak terobati

Tanah masih tebar aroma sisa hujan

Sunyi, terisak pasti

Depok, 30 Januari 2007

Maaf...... (untuk serigala liar di negeri khayal)

Sandal jepit nyaris putus

Menapak di jalanan setengah aspal

Tapak terhenti pada ruang kaca

Di singgasana aku meratap

Pada seribu lukisan maya

Sekedar mencari jejak serigala liar

di tengah hutan negeri khayal