| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
: Olin Monteiro
Pagi sembab, Mei sedu sedan. O, kau disana menghayati tiap derai dengan 36 lilin beku terhampar. O, kau disana menantang hari yang semakin gamang. Dan kau masih disana dengan pena biru melukis Mei muram.
Lalu ku coba susun 36 lilin diatas gurat wajah jalan. Ada garis tegas menjalar, menjadi anak jalan putus-putus, bercabang. Disana terganjal sederet nama dan peristiwa : sebagian membatu, sebagian dikikis angin waktu, sebagian kau rangkai diatas pot warna-warni, manis sekali.
36 lilin ku bakar sedapatnya – angin pancaroba membuat segalanya serba susah - hingga persahabatan hangat terasa.
Aku berkata :
”Malam pasti datang, tapi ini hari masih pagi. Lukisan muram belum kau selesaikan, Mei sungguhlah pucat, menahan perih luka-luka”
Kau berhenti sejenak, menaruh pena, lalu mengambil sejumput kapas
sambil berujar lugas :
”Mei harus sembuh total !”
Menteng, 28 Mei 2007
-indah-
Dua Siluet bercengkrama akan telanjangi malam. Malam-malam bimbang berselimut kamuflase gemerlap megapolitan. Sinar masih berupa lampu taman, genit, menggerahkan. Jangan kau bayangkan bulan-bintang ikut berserak, manusia megapolis terbiasa ketiadaannya sebab kamuflase menggelegar sangat menyibukkan.
Dua Siluet telanjang dibawah fatamorgana megapolitan. Hentak detak dentum eforia musik malam, memecah pasang sunyi yang datang bertubi-tubi menghinggapi sela hati warga kota mati. Malam panjang, pejalang malam, berpesta, bangun dinding mimpi yang tak sempat tercicipi setelah hari-hari sesak berpeluh isak oleh kebuntuan tanya keadilan.
(Kubiarkan lagumu menjadi soundtrack malam ini hingga beberapa malam berikutnya)
Dua siluet melaju kelam, tanya-mencari ujung dunia. Segala sepi, sayu -setengah jiwaku tertinggal di sudut kota tua, sementara lainnya kau ambang dibawa angin pancaroba- tersamar. Tubuh tanpa jiwa bertutur payah :
”Selingkuh itu indah, sayang ?”
Depok, 19-21 May 2007
-indah-
kupu-kupu elok
berputar telanjangi malam
dunia tersentak,
merdeka di ujung tandu !
Menteng, 15 mei 2007
(terinspirasi dari :In The Time of The Butterflies)
-indah-
http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/
:fa
malam hingar,
bertabur roda pejalang
bulan serupa lampu jalanan
Artemis enggan berputar
bintang mogok bersinar
Apa yang terjadi ?
Siapa yang peduli !
malam tetaplah bimbang
riuh, lepas
suara-suara sumbang
pengamen
kecil
di simpang jalan ….
(ingin lekas pulang dan belajar terbang)
Menteng, 9 May 2007
-indah-
/1/ Putus Asa
Terhempas di bibir waktu
Sekelebat kabut ungu menari di mata perisai legam
Yang baru saja hangus terbakar
Jalannya buta !
Lalu tanya berhenti bermakna
Dan galau ingin runtuh
Bunga rampai menolak bercerita
Tentang luka-luka di lembar nasibnya
Kabut ungu berarak perlahan
Menutup pandang bawah sadar
Dia mati rasa !
Siluet sajak tiba di kelopak jiwa
Ia lirih menyapa, hingga terdengar seperti desau anggin berbisik mesra
”Cukup, peluhmu menyayatku.”
”Mari kerumahku”
”Bangun galaumu di selatan rumahku.”
----------“Aku tak bisa !”
“Galauku teramat rapuh”
”Berhentilah mengeluh ...”
” Sajak akan menghantarmu”
”Disana, berteriaklah lalu menangis sepuasnya”
”Seperti pandora [1] yang membuka kotak hidup dunia ......”
Dia melangkah tertatih
Lalu hilang
Di balik kabut ungu
H e n i n g....................
/2/ Di Ambang Pintu
(Sajak mengalun, menuntun kakinya, pada sebuah rumah ungu.
Ia mengetuknya pelan
”siapa ?”
-”aku”
”galaumu runtuh ?”
-”hingga tak bisa hidup”
”masuklah ke rumah”
-”dimana ?”
”di luar pintu”
-” bukankah ini rumah ?”
“rumah hanya sekedar peristiwa [2], tersekat dogma dan paradigma”
” ayo, masuklah”
-”kemana ?”
”labirin jiwa”
/3/ Labirin jiwa
(sedang di selesaikan)
: fa
Siapa yang mengirim rindu sepagi ini ?
Hingga matahari beranjak sunyi
Dari rahim hati seorang putri
Lahir sebait puisi sepi
Menteng, 27 April 2007
-indah-
Malam merakit pekat. Hitam. Hanya itu yang kudapat. Namun tiba-tiba ada setitik sinar. Ia jatuh dari langit lalu menari di tepi ranjang. Sinar yang lelah ...
”Dari mana ?”
”Dari sana ”
”Perjalanan jauh, ya ?”
”1000 mil dihantar angin sunyi”
Setiap malam selalu berulang. Sinar jatuh, merangkak ke ranjang. Mengecup mata malam lalu menarik selimut panjang. Ketika mata terkatup damai. Ia tidak pergi, justru mengendap masuk ke alam mimpi.
Esok pagi terkadang Ia datang kembali. Memberi secangkir canda pagi. Temaniku menelan sepi. Kemudian sepi mati tanpa usia harus terhenti.
Begitulah Ia mewarnai hari. Gemerlap seluruh hati hingga ku tak tahu lagi, bagaimana membuat puisi.
Depok, 22 April 2007
-indah-
Aku tinggal di pinggaran Jakarta dan peraturan di kantorku mengharuskan aku untuk datang awal. Satu-satunya transportasi yang memungkinkan mengejar waktu adalah kereta api. Tentunya menjadi informasi umum bahwa Pelayanan KRL di Indonesia sangat buruk terutama pelayanan KRL antar kota seperti jurusan Bogor-Jakarta sementara peminatnya banyak sekali. Harus berdesak-desakan itu ritmenya yang terkadang ada bonus-bonus lain yang tidak menyenangkan terutama bagi perempuan. Ya....pelecehan seksual. Seperti yang dialami temanku. Ketika ia keluar dari kereta yang sangat penuh dan sesak, roknya basah. Anehnya lagi air yang membasahi bukan air biasa. Kental berwarna putih. Ya...itu sperma. Di tengah penuh dan sesak ada saja yang mencuri keesmpatan onani dalam kereta. Pelecehan lainnya banyak terjadi seperti sengaja mendempet perempuan di kereta walaupun kereta tidak begitu penuh. Lalu dengan sengaja menggesek-gesekkan penisnya ke bokong perempuan tersebut. Ada lagi yang kasusnya sama di tambah dengam memegang pinggang perempuan hingga sengaja sekali meletakkan kakinya diatara dua kaki perempuan. Dan kebanyakan perempuan yang kena pelecehan tersebut hanya diam saja. Mungkin karena takut atau malu. Pernah ada yang bicara keras ”hei jangan kurang ajar !” tapi seluruh isi kereta (terutama yang laki-laki) mencemooh dia dengan mengatakan ”kalau mau lega naik taxi mbak” atau ” emang lagi openuh, protes aja” sedang perempuan lainnya kebanyakan diam. Hah, mengapa kelamin laki-laki harus di depan dan libidonya itu tidak terkendali seperti binatang. Hingga bersenggolan sedikit saja sudah terangsang lalu melakukan pelecehan. Aku berandai-andai, seandainya laki-laki memiliki kelamin lepas pakai seperti kondom yang dapat di taroh di kantong. Jadi Ia hanya dapat menggunakannya ketika berhubungan dengan pasangannya saja bukan pada orang lain yang tidak berdosa. Tentunya lebih baik. Jadi Ia bisa mengontrol libidonya dan tidak merugikan orang lain. Atau tukar saja. Laki-laki memiliki kelamin vagina sedang permpuan memiliki penis. Sementara libido tetap dalam keadaan yang sama. Tentunya keadaan akan jauh lebih baik. Perempuan dengan libidonya yang terkontrol baik tentu tidak akan menggunakan kelaminnya dengan baik. Sementara laki-laki dengan mitos keperawanan yang melekat pada vagina tentunya juga akan bertindak lebih terkontrol. Laki-laki akan menjaga sepenuh hati selaput daranya agar tak robek. Biar saja laki-laki merasakan bagaimana hidup dengan mitos seperti itu. Ini adalah angan-angan yang bodoh di tengah ke kesalanku dan keputusasaan karena terlalu banyak melihat bahkan terkadang menjadi korban pelecehan di fasilitas publik. Perempuan belum Merdeka !. Aku muak hingga ku menduga apa kelamin Tuhan ? jika Ia non gender mengapa takdir laki-laki jauh lebih indah dan mudah ? Ah.... semoga saja keadannya esok lebih baik. I hope ....
Depok, 21 April 2007
-indah-
Rindu
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jauh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama berhenti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya kau tak pernah ada
Ini puisinya Indah Survyana. Dipasang di blognya. Udah pernah aku baca se dulu, tapi baru nyadar sekarang kok ternyata puisi ini bagus juga. Jadi gatel pengen ngobrolinya. MULAI!!!!!!!!
Dua bait pertama kerasa banget betapa rapinya cewek ini menata perasaanya ke kata kata puisi, 2 bait pertama yang rapi dan tempo perasaanya makin tinggi.'Malam mengadu rindu/Kekal, menjelma kelambu/Tak satu kata beradu padu/Pada kotak merah jambu', disini Indah mulai merasa something chemistry (ceile...bahasana..sok banget mas!), dia tak bisa memadukan kata, tak bisa ngomong, karena ada sesuatu yang membatasi, sesuatu yang menjadi kelambu, dan itu terasa di kotak merah jambu (nah masalahna yang dimaksud kotak merah jambu ini apa?ini benda nyata ato cuma kiasan. aku ga tau)
Setelah dia bingung dengan kerinduanya di kotak merah jambu, perasaanya naik lebih tinggi; Aduhai cintaku diujung tandu/Dibawa angin musim haru/Pada sabit berjengger buludru. Tiga baris pertama di bait kedua ini pengen nyapa si 'cintaku' yang bimbang. Kebimbangan si cinta digambarkan ama kata 'diujung tandu', di ujung sebuah akhir. Kebimbangan buat memilih antara beberapa hal. Dan sang cinta memilih dibawa angin musim yang bikin kesedihan, kesedihan sebuah perpisahan. Sang cinta memilih dibawa pergi ke posisi bulan sabit, posisi yg ada di atas. Maksudna si cinta berada di posisi yang lebih atas dari posisi cinta sebelumnya dan posisi indah. Dimana posisi itu juga lebih baik keadaanya, yang digambarkan berjengger beludru. Beludru, kain yang sering disejajarkan dan dikonotasikan ama kemewahan. Akhirnya, indah yang ga ikut naik dan berada di bawah cuma bisa mengatakan rindu pada si cinta.
Nama terus bergema/entah mengapa/entah menyapa/entah dimana. Nama sang cinta terus terbayang, terus bergema. Entah mengapa, aku artikan si Indah ga ngerti apa dan kenapa bisa rindu. Entah menyapa, aku artikan Indah ga ngerti apa iya ada rindu, mungkin disini dia ngerasa ragu. Lanjut dengan entah dimana, disini keraguanya mulai keluar, apa benar si indah rindu, kalo iya dimana, kalo engga kenapa ada perasaan ini, mungkin itu yg ada di perasaan indah untuk bait ini.
Kususuri tapak waktu lalu/Hitung pasir yang berderas jauh/Diwaktu lalu/hingga ku merindu. Disini Indah mengenang, menyusuri masa lalu. Pasir pada jaman dulu dijadiin alat pengukur waktu, dan disini indah menyimbolkan pasir sebagai waktu dan kenangan. Pasir yang berderas jauh menyimbolkan waktu terasa deras dan kejadian kejadian indah bersama cintanya terasa makin menepi karna waktu yang berjalan terus, bahkan terasa deras. Seperti manusia pada umumnya kalo kita mengenang kejadian kejadian lampau yang terjadi adalah kangen, rindu, dibahasakan jadi 'hingga ku merindu'.
Begitu dalamnya kerinduan si indah sampai sampai, hingga pikiran tentang si cinta tak bisa hilang, tak jua nama berhenti bergema. Pikiran pikran menjadi hasrat, emosional yang mungkin berlebihan. Berlebihan sampai menajdi seribu tanya. Dan diantara seribu pertanyaan dan penasaranya, si Indah menuju satu pertanyaan yang mewakili seribu tanyanya; 'sedang apa kau disana?' Pertanyaan ini benar benar mewakili pikiran pikran dan hasrat si Indah, sedang apa sang cinta disana, apa sang cinta juga rindu si Indah, apa sang cinta sibuk samapi lupa sama si Indah. Gitulah pertanyaanya, 'sedang apa kau disana?'sangat mewakili hasrat rindu si Indah.
Kecut hati amatlah dungu/Tatkala suara tak dapat melagu/Kecut hati sisir nama itu/Pada kertas kaca, dunia maya/Sayangnya kau tak pernah ada. Kecut hati gambarin ketidakberdayaan Indah mengungkapkan perasaan rindunya entah karena alasan apa. Indah ngerasa ketidakberdayaanya ini dan menyesalinya, sampae dia ngatain dirinya dan ketidakberdayaanya adalah dungu. Diantara kelemahanya itu, waktu Indah ngerasa ga bisa mengungkapkan perasaanya, ga bisa melagukan perasaanya, si Indah mencari-cari nama si cinta pada kertas kaca, dunia maya. Kertas kaca udah dijelasin Indah sebagai simbol dunia maya, dunia internet, dunia chatting. Artina si Indah ama si cinta berhubungan lewat dunia internet. Tapi Indah ga nemuin nama/nick si cinta tiap Indah ada di dunia internet, alias si cinta ga pernah online. Bait terakhir 'Sayangnya kau tak pernah ada' jadi akhir yang cukup sedih buat semua pikiran dan hasratnya Indah.
Puisi ini sebenernya ga perludijelasin karna puisi ini udah lumyan cukup jelas maknanya. Yang bikin bagus dari puisi ini adalah si Indah bisa bikin bait bait yang rapi, terarah, tempo perasaanya naik dangan teratur dan pasti, ga emosianal lompat lompat. Selain itu kata kata yang dipilih juga bagus dan lebih bagusnya maksudanya bisa dimengerti. Di akhir puisi ini, di bait terkhir, Indah mengkahiri kerinduanya dengan satu kalimat yang sedih dan menutup semua bait bait di atasnya dengan sempurna; mengakhiri kerinduan dengan kenyataan ga bisa ketemu cinta, kerinduan Indah ga bisa dilampiaskan dengan ketemu cintanya.
Aku menempuh 1000 mil,
demi mencari ujung dunia
(Disana pengembara melepas surat-surat kekasihnya, dan menjatuhkan tubuhnya, bersamanya …)
Depok,
(terinspirasi dari Creed “One Last Breath”)
8 April 2007
-indah-
zaman edan
berteriak hingar
"que sera-sera"
relativitas
probabilitas ganda
mitos adalah kitab budaya
dan
peradaban dibawah sadar
adalah peradaban tanpa kemanusiaan ....
-------makhluk sunyi,
bersembunyi dibawah ketiak malam,
penonton setia teaterikal zaman
Menteng, 3 april 2007
-indah-
Untuk pertamakalinya Temis membuka kain penutup mata. Terkejutlah Ia, Api Tartar berkobar hebat. Manusia tidak berdosa menggeliat di atasnya. Zeus telah menipunya untuk kesekian kalinya. Sungai Stinks pun surut. O...itukah sebabnya hujan Stinks berabad-abad hingga manusia selalu lupa ?
Seorang anak kecil berpakaian compang-camping mendekatinya. Berbisik halus....
”Dewi ceritakan kepadaku apa itu keadilan ? ”
”Keadilan adalah kebahagiaan sosial” sahut Dewi dengan senyuman
”Dimana keadilan, Dewi ?”.
Untuk beberapa saat dewi diam, memandang Api Tartar, lalu berkata lirih, getir...
”Keadilan adalah kerinduan abadi manusia akan kebahagiaan ”
Menteng, 4 April 2007
-indah-
Petang terhirup sepi
Kubuka pintu waktu,
bulir-bulir salju mendesak,
mengendap
Kau berkata :
Tutup Pintu !
Waktu membuatmu membeku !
Berbaringlah bersamaku .....
Perapian menunggu
Sebait sajak terbakar sudah
Ada hangat mengerjap, berulang
Sederhana ....
Sementara ....
( Sajak membatu,
Aku meluruh menjadi abu )
Menteng, 2 April 2007
-indah-
Ada yang ingin disampaikan angin
Dalam desirnya yang dingin
Mengajak semua bergerak bersama
Makna dibalik irama
Bias, lepas, berhamburan
Menjadi partikel-partikel tak kasat mata
Tarian resah cabik hening
Seekor kupu-kupu hitam hinggap di beranda kayu
Tergoda tarian angin,
Ikut terbang menuju titik dini purnama
Awan hitam, mendekat serampangan
Setubuhi senja hingga pucat
Senja mendesah sejenak, menangis tanpa air mata
Tinggallah pengap nyaris berteriak !
(Aku menyambut alam dengan asa mengambang.
Satu pijar sinar hanya lampu taman di tepi kolam )
Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-
Pagi di Cibogo tiada beda
Matahari yang sama perlahan menaiki puncak gunung
Percumbuan dini, dingin
Bermula embun, gunung mendesah
Ada gairah di pagi itu
Bulir keringat keluar dari celah bebatuan
Waktu membawa keduanya hanyut
Matahari bergerak semakin liar
Mengecup penuh tubuh gunung
Hutan-hutan hijau yang merekah,
Tak lupa disisirnya pula.
Membelai semakin dalam
Tak disangka sinar pagi itu hinggap juga
Pada lubang hitam, liang gua
Gunung di pagi itu
Tak lagi perawan
Cibogo, 27 Maret 2007
-indah-
Puisi Sempurna
Terhunus pedang temaram
Di ujung gang pelacuran
Terkapar
Roh melayang
Puisi mati penasaran
Cibogo, 26 Maret 2007
-indah-
Dear My Friends, kau katakan aku berubah. Dari aktivis jalanan yang selalu megang toa sekarang jatuh pada dekapan puisi melankolis, sampai ada teman yang berucap "Indah, sekarang kamu ada di dimensi mana ?". Indah tidak berubah, my friends. Dia tetap seperti yang dulu hanya saja suasana sekarang memang lebih melankolis. Bagaimana tidak, sehari hanya berhadapan dengan huruf dan huruf, terpaksa merangkai hingga menjadi lukisan air realita. Mencoba mengatur huruf-huruf agar dapat ditemukan kembali di kemudian hari. Jenuh ? sangat ! aku merindukan canda-tawa dari sudut pusgiwa. Aku merindukan hingar bingar serta asap kansas. Aku merindukan dongeng dosen-dosen di kelas. Aku merindukan semua pekik dan histeria dari kampus tercinta. Dan aku tetap disini berhadapan dengan huruf-huruf yang nyaris basi !
dear my friends, coretanku bukan puisi. Ini sebuah diary dari seorang indah bodoh. Selalu bercerita tentang kesehariannya dan seseuatu yang unik dimatanya (Kau masuk dalam puisiku, kau unik dimataku :).Coretanku bukan puisi meski beberapa kebetulan berbentuk seperti puisi. Puisi bahasa tertinggi dan coretanku bukan puisi ! Puisi sangat universal sementara coretanku sangat personal. Apa lagi ? banyak ! dan seorang indah yang tidak pernah mengecap teori estetika tidak akan mungkin melakukannya. Memang, namaku indah tapi ini bukan indah! Indah yang ini masih mengeja kata i...n...d...a...h...hingga mengetahui apa arti dirinya.
Dear my friends, aku masih tetap mencari makna semesta dan hakikat aku sebagai manusia yang hidup diatasnya. Entah sampai kapan pencarian ini tapi sungguh ini adalah petualangan yang mengasikkan lebih dari sekedar pendakian alam. Dan aku percaya walau tertatih-tatih, terseok-seok, meringis hingga menangis. Di ujung senja pasti terbahak-bahak. Hahahaha :)
Menteng, 22 maret 2007
-indah-
SEPI (1)
Sia-sia semua lagu yang mengalun
Karna tak ditemukan keramaian
Semua berawal dari ada menjadi ketiadaan
Keabadian adalah semu, kala
Tirai pertunjukkan menutup
Perempuan muda memandang congkak
Ruang bisu dalam tabung
Akhirnya ia terbangun,
lalu menangis seketika
Hening ......
Depok’o6
-indah-
SEPI (2)
Sepi, bagaimana melukiskan kau ?
Kau udara,
hadir di setiap nafas waktu
hingga usia terhenti,
kau mati
Aku abadi tanpa sepi...
Salemba, 21 Maret 2007
-indah-
Themis pergi ke pasar
Menawar obat bagi luka berhimpitan
Zeus mengetuk palu kehormatan
Riak hambar mengalir di persidangan …..
Menteng, 14 Maret 2007
-indah-
Tarian angin, galau, gemulai
Menghempas dedaunan kering, terabai
Matahari
Penuh
Mendekap bumi
Panas …
Lambat, pijar titik-titik api
Seperti neraka, kita disana !
Entah, adakah tawa tersisa ?
Satu generasi berharap hujan hapus luka
Menteng, 13 Maret 2007
-indah-
Catatan Kaki :
* Judul diatas dimbil dari judul pertunjukkan teater tanggal 13-14 Maret di Gedung Kesian Jakarta (GKJ) Pertunjukkan ini merupakan hasil kolaborasi UKM Bidang Seni Universitas Indonesia yang terdiri dari Liga Tari, Teater UI, Marching Band, Orkestra Simfoni dan Paduan Suara. Sampai detik ini saya masih terpesona pada Tarian Angin dan Dramatisasi Puisi Sutardji (Tanah Air Mata) yang disajikan semalam dengan luar biasa. Bravo UKM Seni UI !
Malam mengadu rindu
Kekal, menjelma kelambu
Tak satu kata beradu padu
Pada kotak merah jambu
Aduhai cintaku diujung tandu
Dibawa angin musim haru
Pada sabit berjengger buludru
Dibawah, aku mengadu rindu
Nama terus bergema
Entah mengapa
Entah menyapa
Entah dimana
Kususuri tapak waktu lalu
Hitung pasir yang berderas jatuh
Diwaktu lalu
hingga ku merindu
Tak jua nama henti bergema
Hasrat ikuti gema nama
Dalam seribu tanya
Sedang apa kau disana ?
Kecut hati amatlah dungu
Tatkala suara tak dapat melagu
Kecut hati sisir nama itu
Pada kertas kaca, dunia maya
Sayangnya, kau tak pernah ada
Tinggalah sendiri, aku
Terus mengadu rindu
Hingga berharap pada bintang jatuh
Kian kutunggu tak pernah jatuh
Rindu dimalam itu, Rindu lirih melagu
Depok, 2007
-indah-
GOVERNMENT PC
File Download-Security Warning
Name : Dukkha * Aceh, 2,3184 giga dukkha
Type : SOS ASAP
From : 01-07
Do you want to open or save this file ?
> Cancel
Task Manager Status:
Sims City 1 (playing)…..running…..
ACEH PC
Task Manager Status:
MP3 07 Sum 41 Still Waiting (playing)…running… ………………………………………..
Menteng, 3 Maret 2007
-indah-
Catatan Kaki :
* Dukkha adalah satuan penderitaan manusia. Istilah ini dibawa oleh Professor Teuku Jacob pada acara Pidato Kebudayaan dan Seminar “Manusia,Kekerasan dan Nir Kekerasan” Tanggal 25 Februari 2000 di Gedung Pertemuan UGM Yogyakarta. Ada 9 tahapan Dukkha yaitu : tahap terasa, mengganggu, cukup mengganggu, perlu pertolongan, mengganggu kehidupan sehari-hari, amat sangat mengganggu, payah, tak tertahankan sehingga ingin mati saja. Dari satuan ini dapat dihitung berapa besar satuan Dukkha yang dialami suatu bangsa (Gross National Dukkha). Bila bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk 210 juta mengalami Dukkha dengan tahapan tertinggi maka satuan dukkha yang dialami bangsa Indonesia menurutnya dalam satu tahun mencapai 89.850 mega dukkha. Dengan perhitungan : 210 jiwa x 9 (tahapan) x 360 hari = 89.850 mega dukkha Sementara bila di Aceh terdapat 100 ribu warga yang terkena dampak DOM dengan tahapan 5 selama sepuluh tahun, maka satuan dukkha yang dialami warga aceh mencapai 1,85 giga dukkha. Ditambah lagi penderitaan sekitar 80 ribu rakyat aceh selama dua tahun pasca tsunami dengan tahapan sampai 9 tahapan. Berarti total Dukkha masyarakat Aceh hingga tahun 2007 mencapai : 2,3184 giga dukkha
Levina,
Namamu cantik, takdirmu pahit
Mandi air mata kau rupanya
Setelah kemarin kusam, hitam, terbakar
Kini kau menyelam, tenggelam
Tangis, luka, terus meraja
Melepas engkau, para kesatria
Disana, mendekap Levina
Menteng, 26 Februari 2007
-indah-
Persekutuan Kadal Belang
Deklarasi Gombalisasi
Nyanyian berjalan lintas alam
Terobos gang-gang sempit pelacuran
Hingga kerumah-rumah berhimpitan
Banjir ludah di ibukota !
Ditambah receh, rakyat pun senang
Yang lalu biarlah berlalu
Tapi badai tak pernah berlalu
Akhir cerita selalu sama
Kadal menang, jejingkrakkan
Gombal laku dipasaran
Kursi terbeli murah meriah
Depok, 17 Februari 2007
-indah-
MANUSIA-MANUSIA TERNAK
Manusia-manusia ternak
Hidup di zaman Instan
Telan bulat logika tiran
Yang, edan dilarang bertahan
Sebagian dipasung kemudian
Lalu binasa perlahan
atau dibuang ke pengasingan ?
Manusia-manusia ternak
Hidup untuk makan
Lapar, rakus, bengis, diajarkan
Ilmu bertahan di belantara hutan
Hukum rimba yang jadi acuan
Manusia-manusia ternak
Manusia massa yang kesepian
Malas berfikir, malas bercermin
“que sera-sera” mereka bersorak
Suka rela sambut propaganda
Manusia-manusia ternak
Makanan empuk tiran hitam
Habis menurut, tiada melawan
Yang melawan, di bina (-sakan)
“Mengganggu keamanan” kata si tiran hitam
Seperti flu burung di musim penghujan
Depok, 21 februari 2007
-indah-
-BELUM ADA JUDUL-
Rasanya baru kemarin
Udin pergi, tinggal tanya
Jejak Membekas
Bercak darah
Bersemayam
Tunggu keadilan !
Rasanya Baru kemarin
Udin pergi, tinggal tanya
Sebentar kemudian Mohamad Sayuti, Naimulah, Mukmin Fanani, Sander Thoenes, Agus Mulyawan, Herliyanto, Ersa Siregar dan siapa lagi ?
Meninggalkan jejak di pagi buta
Dari pena tinta, berdarah
hilang,
ditelan busuknya konspirasi !
Rantai-rantai kekerasan semakin panjang dan bercabang
Melilit yang vokal, mencekik yang melawan
Kita di lingkaran setan, kawan
Dan mereka, di bawah nisan, terdiam, tunggu keadilan !
Menteng, 21 februari 2007
-indah-
APA KABAR ?
Iya, Mereka Mahasiswa
Tertawa hingga keluar airmata
Saksikan Thukul Arwana
Di acara Empat mata
Iya, Mereka Mahasiswa
Pesta pora ber-valentin ria
Kuping di sumbat lagu bercinta T
uli, dari panggilan sejarah
Sejarah bangsa, Sejarah gelap
Tak ada sinar walau seberkas
Sejarah bangsa, Sejarah berdarah
Darah tumpah, bukan tak berarti !
Namun mereka masih tertawa
Hahahahahahaha
hhhhhhhhhhhhhhhhh
Hiks hiks hiks hiks
Apa kabar Wiji Thukul ? Ya
ng hilang 10 tahun silam
Pahlawan pembebasan kemanusiaan
Kini mulai dilupakan
Apa kabar Wiji Thukul ?
Sendiri Ia dalam kegelapan
Masih menanti keadilan
Apa kabar mahasiswa ?
Masih, tertawa
Hingga keluar air mata!
Depok, 20 februari 2007
-indah-
-BELUM ADA JUDUL-
orang bilang ini reformasi
nyata-nyatanya cuma repotnasi
apakah salah petani-petani ?
salahkan saja tikus rakus yang tumpuk beras di gudang busuk
atau penguasa yang ngidam berat makan beras impor ?
orang bilang ini demokrasi
nyata-nyatanya cuma democrazy
“demokrasi bukan untuk orang bodoh dan malas berfikir!
Demokrasi bukan untuk diamati di bangku-bangku perguruan toinggi ,
demokrasi hak asasi! “
Kata seorang politisi, sebelum Ia dapat posisi
Apa yang kau banggakan kini ?
Percayalah, semua sudah basi
di telan gemuruh globalisasi
anak emas kapitalis sejati!
Nyatanya kita cuma ngiler
Mau ini mau itu
Lelah menghayal lantas ketiduran
iler mengembang di pulau kasur
Selagi tidur, pulau hilang satu persatu
Warisan untuk anak cucu Cuma sebatas pakaian dalam bolong-bolong
Aduhai bangsaku, negeriku, tanah airku
Tanah tumpah darah selalu
Tanah air mata
Menteng, 22 februari 2007
-indah-
http://indah_fib_ui.blogs.friendster.com/my_blog/
The law locks up the man or woman
Who steals the goose from off the common
But leaves the greater villain loose
Who steals the common from off the goose.
The law demands that we atone
When we take things we do not own
But leaves the lords and ladies fine
Who take things that are yours and mine.
The poor and wretched don’t escape
If they conspire the law to break;
This must be so but they endure
Those who conspire to make the law.
The law locks up the man or woman
Who steals the goose from off the common
And geese will still a common lack
Till they go and steal it back.
-anonymus-
Kemarin malam (14/02/07) saya memergoki copet HandPhone lagi. Peristiwa ini terjadi pukul 21.30 WIB ketika saya naik angkot nomor 129 jurusan Pasar Minggu-Mekarsari.. Dari Pasar Minggu angkot terlihat cukup ramai, 2 orang duduk di sebelah kanan, 3 orang duduk di sebelah kiri. Saya duduk di pojok sebelah kiri. Kemudian seorang laki-laki, bertubuh tegap, berkumis&berjanggut, berpakaian kerja (kemeja kotak-kotak, celana bahan warna hitam, sepatu pantofel) dan membawa tas laptop (bagus, merek polo, warna hitam) duduk di antara saya dan perempuan berpakaian putih. Awalnya saya pikir laki-laki ini pasti pulang dari kerja tapi lama saya perhatikan tangan laki-laki itu tidak diluar tetapi berada di balik tas laptopnya. Tas laptopnya dalam posisi tegak sehingga menutupi paha hingga dada laki-laki itu. Tangannya mulai beraksi di balik tas laptopnya. Ia mencoba merogoh tas perempuan berbaju putih itu. Kira-kira selama 20 menit Ia berusaha membuka sleting tas perempuan berbaju putih itu. Untungnya Pak sopir yang duduk di depan suka ngerem mendadak sehingga laki-laki selalu gagal setiap akan berhasil membuka tas perempuan itu. Di menit ke-30 nampaknya laki-laki itu belum juga berhasil membuka tas perempuan targetnya.Dia mulai mengelap keringat dan membenarkan tas laptopnya lalu beraksi kembali, tapi lagi-lagi pak supir yang baik hati ngerem mendadak dan aksi gagal lagi. Di menit ke 36 laki-laki itu melihat kearah saya. Saya mendekap erat tas ransel saya dan tak lupa mengeluarkan payung lipat saya yang berwarna pink ngejreng. Waktu itu angkot penuh. Beberapa penumpang melihat ke saya. Mungkin saya terlihat aneh sekali, tiada angin tiada hujan tapi kok ngeluarin payung. Di menit ke 40. Beberapa penumpang turun. Perempuan berbaju putih itu duduk menjauh, saya sendiri pindah tempat duduk ke sebelah kanan dekat pintu. Laki-laki itu terlihat bercucuran keringat dan kembali mengusap keringatnya. Saat itu kedua tangannya sudah berada di depan Menit ke 45, perempuan berbaju putih dan perempuan di samping saya turun sehingga total penumpang di angkot itu tinggal saya dan laki-laki itu. Saya duduk di bangku empat dekat pintu, sedang dia duduk di pojok bangku enam. Menit ke 48 angkot sampai di Palsigunung. Dia turun tanpa membayar sepeser pun. Dari kejauhan saya melihat laki-laki itu berlagak sibuk dengan melihat jam dan menyetop angkot nomor 41 jurusan Kp.Rambutan-BJ.Gede dan kelihatnnya angkot itu agak penuh. Ah…semoga laki-laki itu gagal lagi : )
Hari ini gw di wisuda, tapi males banget boo cuz wisudanya jam 3 sore, hujan pula lagi! Huh! Tapi untungnya sorean coba klo pagi-pagi wadduh, ga kebayang tuh repotnya cuz pagi-pagi hujannya deres abiz gitu deh klo sore kan Cuma gerimis ya...lumayan lah. Pagi-pagi setengah sadar gw dah terima ucapan selamat dari 2 orang sahabat gw (yg kyaknya ga dteng, hiks), tapi karena setengah sadar gw cuma inget si yudi doank yang satu lagi siapa ya katanya sih adi tapi kok suaranya bukan adi. yeah..wha ever lah.
Muka gw di poles topeng seharga 35 rb jadi terlihat putih dan mulus meski gw ga betah juga palagi harus pake lipstik, oh...it’s so sucks guys! Ya... yang penting mama seneng lah...
Sampe di baleirung jam 14.30, acara nyaris di mulai. Macet banget booo... and nyari parkiran susah banget akhirnya bokap parkir di rektorat tempat dosen-dosen parkir. Jadi serasa jadi dosen deh. Waktu mo masuk ketemu eko, uncle sam dan mbak ana. Kyaknya abiz nemenin eko wisuda dah. Hebat euy si eko dah lulus S2. jadi klo si eko garisnya dua cus S2 sementara gw garisnya satu cuz baru S1.
Oh, wisuda gini toh rasanya. Ga berasa booo, little bit garing lah. Gw tidur pas rektor pidato. Kepala gw berat banget mungkin ini pengrauh Ctm yang gw minum tadi pagi. Harap gw mudah-mudahan upacara ngebetein ini cepat berlalu. Hihihi J
Sselesai wisuda kira-kira pukul 17.00. wah pas selesai crowded banget. Ktemu yola, leli and kita sempet foto2 bertiga. Pas lagi crowded nyari jalan keluar ketemu bebek tapi enggak sepet foto. Gw cari jalan keluar scepatnya.
Begitu ktemu keluarga foto-foto lagi deh. Tapi kok tmen-tmen ga keliatan ya ? mungkin krn ujan kli pada males dteng (tapi malem gw tlp diro ternyata anak-anak nunggu di dket danau, walah!geblek!)
Oh, ternyata gini toh rasanya wisuda. Biasa aja! Ga lebih dari seremonial or ritual yang Cuma fotofoto dan foto-foto lagi. Gw banyak ngabisin berfoto di belakang gedung rektorat. Ga tau knapa ya mungkin karena itu lambang keanggkuhan sebuah lembaga pendidikan yang sampai sekarang gw belom bisa menaklukkannya. Yeah...berfoto disana juga akan mengingatkan gw bahwa suatu saat gw harus bisa menaklukkannya. ! yeah...i wish....
Depok, 3 februari 2007
-indah-
Manusia-manusia ternak
Hidup di zaman instan
Manusia-manusia ternak
Waras jadi pilihan
Ketika Edan dilarang bertahan
Depok 31 Januari 2007
- indah-
Susuri jalan lurus
Sunyi, tak terobati
Tanah masih tebar aroma sisa hujan
Sunyi, terisak pasti
Depok, 30 Januari 2007
Sandal jepit nyaris putus
Menapak di jalanan setengah aspal
Tapak terhenti pada ruang kaca
Di singgasana aku meratap
Pada seribu lukisan maya
Sekedar mencari jejak serigala liar
di tengah hutan negeri khayal
Recent Comments